PENDIDIKAN BAHASA ARAB
PEMBELAJARAN BAHASA ARAB
  • Belajar B.Arab Melalui Cerita Bergambar
  • Teknik Menarik dalam Mengajar B. Arab
  • Kiat Sukses Belajar Bahasa Arab
  • Sejak Dini Belajar Bahasa Arab
  • Pentingnya Belajar Bahasa Arab
  • Mudah Belajar Bahasa Arab
  • Belajar Cepat Bahasa Arab
  • Mengapa belajar bahasa Arab ?
  • Belajar Bahasa Arab, Sulitkah ???
  • Tehnik Belajar Bahasa Arab
  • Wajibkah Belajar Bahasa Arab ??
  • Belajar online bahasa arab
  • Kesulitan Belajar Bahasa Arab
  • Situs Translate Bahasa Arab
  • Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab
  • Problematika Pembelajaran Bahasa Arab
  • Pembelajaran Kosakata Bahasa Arab
  • Teknik Main Peranan dalam Pemb B.Arab
  • Teknik Sumbangsaran dalam Pemb B.Arab
  • Teknik Simulasi dalam Pemb B.Arab
  • Teknik Latih-Tubi dalam Pemb B.Arab
  • Metode Pembelajaran Sya'ir Arab
  • Implementasi Teknologi Dlm Pemb B. Arab
  • Huruf Hijaiyah Awal Pembelajaran B.Arab
  • Metode Pemb Klasik & Modern B.Arab
  • Metode Pembelajaran B.Arab Secara Umum
  • Pemb B.Arab (Active Learning) Silberman
  • PEMIKIRAN BAHASA ARAB

    تعريف تحليل الأخطاء

    Ditulis oleh : Achmad Farouq Abdullah M.Pd.I

    إن تحليل الأخطاء هي فرع من فروع علم اللغة التطبيقي"Applied Linguistics"- في الدراسات اللغوية العربية القديمة التي قام بها العلماء العرب. ثم نقسم إلى قسمين عن شرح تحليله   هو التحليل والأخطاء. وأما التحليل هو قدرة المتعلم على الفحص الدقيق للمحتوى العلمي والمعرفى وتحديد عناصره[1].والأخطاء: هي ذلك النوع من الأخطاء التي يخالف فيها المتحدث أو الكاتب قواعد اللغة. ويضيف براون أن الخطأ، هو: "انحراف عن القواعد النحوية التي يستخدمها الكبار في لغتهم الأم".[2]

    تحليل الأخطاء هو نوع من التحليل اللغوى الذى يركز على الأخطاء التى وقع فيها الدارسون عند تعلمهم اللغة الثانية أو الأجنبية ثم تصنيفها.(3) وقال س.ب. كوردر (stephen pit corder) فى إحدى مقالته هن تحليل الأخطاء :" الصفة المميزة لأخطاء المتكلم الأصلي أنها قابلة للتصحيح، يصححها هو بنفسه عندما يلاحظها أو يصححها سامعوه. وهذه الأخطاء يمكن تصنيفها بوصفها أخطاء فى نقل الموضع أو التبديل أو إضافة صوت أو كلمة أو تعبير أو بوصفها خليطا من ذالك.[4]

    لذلك أن تحليل الأخطاء هو حقل الدراسة التى تقع فى اللغويات التطبيقية. هذه الدراسة هي ليست الواقعة الجديدة لمدرس اللغة، لأن نتائج التطبيق تحليل الأخطاء استخدامها لتحسين عملية التعليم اللغة، وكذلك لتصحيح الأخطاء التى عملت المتعلم و لمساعدة المعلم على تطوير استراتيجيات التعليم المناسب.[5]




    [1]حسني عبد الجليل يوسف،  علم كتابة اللغة العربية و الإملاء، الأصول-والقواعد-والطرق، دار السلام للطباعة والنشر والتوزيع والترجمة، الطباعة الأولى 1427 ه – 2007 م، ص.242
    [2]براون، هـ دوغلاس، أسس تعلم اللغة وتعليمها، ترجمة: عبده الراجحي وعلي علي أحمد شعبان، بيروت: دار النهضة العربية، 2007، ص204.
    [3]Parera, Jos Daniel, LinguistikEdukasional, MetodologiPembelajaranBahasa, AnalisisKontrastifAntarBahasa, AnalisisKesalahanBahasa, (Jakarta, Erlangga, 1997), p.141
    [4]محمد إسماعيل صيني و إسحاق محمد الأمين، التقابل اللغة و تحليل الأخطاء، 1982م (جامعة الملك سعود)، ص.132
    [5]ImanSantoso, M.Pd, AnalisisKesalahanKebahasaanHasilTerjemahan Google-Translate TeksBahasa Indonesia KeDalamBahasaJerman,.Pdf - Adober Reader, p.

    Ibnu Jinni (Penulis Buku Al-Khashais)


    Biografi Ibnu Jinni - Nama lengkap Ibnu Jinni adalah Abul Fath Utsman bin Jinni Al-Mushily (320-390 H/932-1001 M). Ia adalah ulama terkenal di bidang ilmu Nahwu dan sastra. Masa kecilnya dihabiskan di kota Mosul, Irak. Konon, ayahnya bekerja sebagai pembantu setia seorang hakim di Mosul bernama Sulaiman bin Fahd Al-Azdi. Sekalipun demikian, status sosial itu tidak menyurutkan Ibnu Jinni menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan seperti anak-anak lainnya.

    Sejak kecil, ia telah dianugerahi ghirah ilmiah atau semangat kuat untuk belajar dari para syeikh yang ada di daerah kelahirannya. Hampir semua halaqah (majelis taklim) telah dihadiri Ibnu Jinni untuk menuntut ilmu dari para pengasuh dan syekh yang ahli di bidangnya masing-masing. Di usianya yang masih belia, 17 tahun, ia telah menguasai ilmu sharaf. Hingga, Ibnu Jinni berkenalan dengan seorang syekh bernama Abu Ali Al-Farisi yang dikenal dengan pakar ilmu bahasa dan nahwu di zamannya. Sejak itu, Ibnu Jinni hanya menetapkan pilihannya untuk hanya belajar kepada Abu Ali Al-Farisi dan meninggalkan halaqah lainnya. Selama 40 tahun lamanya, Ibnu Jinni menjadi murid setia Abu Ali Al-Farisi hingga ia mewarisi semua ilmu dari gurunya.

    Ibnu Jinni dan gurunya pindah ke kota Halb, ibukota Bani Hamdan. Di sana, mereka tinggal selama 5 tahun dan mendirikan majelis taklim yang dihadiri para ulama lainnya. Di kota itu pula, Ibnu Jinni dan gurunya berkenalan akrab dengan Al-Mutabbi, salah satu pakar di bidang bahasa dan sastra. Mereka saling bertukan pikiran tentang masalah-masalah tatabahasa Arab. Kemudian, Ibnu Jinni dan gurunya berpindah ke Damaskus, lalu ke Baghdad untuk melanjutkan misi dakwah dan taklim. 

    Karya ilmiah yang berhasil ditulis oleh Ibnu Jinni mencapai 67 buku. Namun, bukunya yang paling populer hingga kini adalah Al-Khashais, sebuah buku yang isinya komprehensip meliputi dasar-dasar ilmu nahwu, kaidah usul fiqh dan nahwu, dan analisis leksikologi terhadap makna-makna kosakata bahasa Arab. Buku yang terdiri dari 162 bab ini, pernah di hadiahkan kepada Sultan Baha'uddin Al-Buwaihi, tepatnya setelah guru Ibnu Jinni meninggal dunia.

    Di bidang fiqih, Ibnu Jinni mengikuti madzhab Imam Hanafi. Di bidang akidah, ia lebih memilih sebagai pengikut mu'tazilah dan di bidang nahwunya condong ke madzhab ulama Basrah. Beberapa pendapat Ibnu Jinni yang mengundang kontroversi di dalam kitab Al-Khashais, antara lain: kritiknya terhadap kekurangan Al-Kitab karya Sibawaih dan pendapatnya yang menyatakan bahwa ilmu bahasa Arab termasuk kaidah Islam.

    Disalin ulang dari buku Leksikologi Bahasa Arab karya H,M. Taufiqurrochman, M.A.
    Diambil dari (http://www.al-arabiyyah.com/)

    Biografi Ibnu As-Sikkit

    Ibnu Al-Sikkit (186-244 H/802-858 M), nama aslinya adalah Abu Yusuf Ya’qub bin Ishaq. Sebenarnya, Al-Sikkit adalah gelar ayahnya. Gelar ini disematkan pada sang ayah, sebab ia dikenal pendiam. Ayahnya adalah pria shaleh dan berpengetahuan luas di bidang bahasa dan syair. Sang ayah juga dikenal senang dan gemar mengajar anak-anak kecil di desanya, Dauraq. Kesabarannya dalam mengajar anak-anak kecil berhasil mencetak generasi masa depan yang berpendidikan dan bermartabat, termasuk putranya sendiri. Kemudian, ia beserta keluarganya pindah ke daerah Darbul Qantharah di kota Salam. Di tempat barunya, ia kembali mengajar ilmu-ilmu agama dan bahasa kepada anak-anak kecil. Tetapi kali ini, ia dibantu putranya, Ya’qub. Sejak kecil, Ya’qub memang hanya belajar di bawah bimbingan ayahnya sendiri.

    Menurut al-Hamawi, tatkala Ibnu Sikkit mulai menginjak dewasa, ia pun tak bisa menahan obsesinya untuk merantau ke Basrah dan Kufah demi mempelajari ilmu nahwu. Di antara guru-gurunya di Kufah, antara lain: Abu Zakaria Al-Farra’ (w.207 H), Abu Amr Al-Syaibani (w. 213 H), Abu Amr bin Al-‘’Arabi (w. 231 H), Abul Hasan Al Atsram (w.232 H), dan ABul Hasan Al Lihyani. Di Basrah, Ibnu Sikkit menimba ilmu kepada Abu Zaid Al-Anshari (w. 215 H), Al-‘Ashma’I Abdul Malik bin Qarib (w/ 216 H) dan Abu Ubaid Mu’ammar bin Al Mutsanna (w. 209 H). 

    Ibnu Sikkit banyak menulis kamus-kamus ma’ani (tematik), antara lain: Al- Adhdadh(antonym), Al-Hasyarat (serangga), Al-Nabaat (tumbuhan), Al-Wahsy (binatang buas), Al-Ibil(unta), Al-Isytiqaq (devirasi), Al-Ashwaat wa AL-Alfadz (suara dan lafal) dan beberapa karya lainnya. Semua karya tulisannya hamper berjumlah 40 judul buku. Karya terbesarnya, berjudul Ishlah Al-Mantiq, sebuah buku yang memuat ilmu bahasa dan logika yang terkenal paling baik di Baghdad pada era Ibnu Sikkit. 

    Diambil dari (http://www.al-arabiyyah.com/)

    Abul Aswad Ad Duali

    ABUL ASWAD AD DUALI (1 SH- 69 H /603-688 M)
    Pakar nahwu

    Dahulu, Bahasa Arab tak mengenal adanya harakat. Masyarakat Arab menggunakan dialek kebiasaan mereka saat mengucapkan bahasa Arab. Bayangkan betapa sulitnya membaca Al-Qur'an tanpa tanda harakat satu pun. Oleh karena itulah, Abul Aswad Ad-Duali mejadi sosok yang berkiprah sangat penting bagi umat Muslim. Dialah yang menemukan kaedah tata Bahasa Arab (Nahwu), salah satunya yakni kaedah pemberian harakat.
    Abul Aswad Ad-Duali memiliki nama asli Dzalam bin Amru bin Sufyan bin Jandal bin Yu’mar bin Du’ali. Dia biasa dipanggil dengan nama kunyah (panggilan) Abul Aswad. Sementara Ad-Duali merupakan nisbat dari kabilahnya yang bernama Du'al dari Bani Kinanah.  Abul Aswad Ad-Duali merupakan seorang Tabi'in, murid sekaligus shahabat Khalifah keempat, Ali Bin Abi Thalib. Ia ahir tahun 603 Masehi dan wafat pada 688 Masehi. 
    Sebelum menjadi pakar nahwu, Ad-Duali banyak berkiprah di dunia perpolitikan. Ia sempat menjadi hakim di Bashrah pada era kekhalifahan Umar bin Khattab hingga kemudian ia diangkat menjadi gubernur kota tersebut di masa kepemimpinan Ali.  Saat perang Jamal, Ad-Duali merupakan juru ruding perdamaian antar dua kubu. Ia juga pernah diutus sahabat Rasulullah, Adullah Ibn Abbas untuk memerangi kaum Khawarij. 
    Peran Abul Aswad Ad-Duali
     Ia menjadi murid Ali bin Abi Thalib, dan nahwu ia pelajari sendiri darinya ( Ali ibn Abi Thalib), yang merupakan pakar nahwu kala itu. Dia termasuk orang yang pertama mengumpulkan mushaf dan mengarang ilmu nahwu dan peletak dasar kaidah-kaidah nahwu, atas rekomendasi dari Ali bin Abi Thalib.
    Ia juga mendapat intruksi dari Ali Bin Abi Thalib, ketika menjadi khalifah, untuk merumuskan tanda-tanda baca pada tulisan. Sasaran pertamanya adalah mushaf-mushaf Al Qur’an, karena disinilah letak kekhawatiran salah baca seperti yang kerap terjadi waktu itu.
    Dalam Ensiklopedi Peradaban dikisahkan, Ad-Duali pada suatu hari melewati seorang yang tengah membaca Al-Qur'an. Ia mendengar surah At-Taubah ayat 3 dibaca dengan kesalahan harakat di ujung kalimat. Meski hanya satu kesalahan harakat, namun artinya sangat jauh berbeda. Ad-Duali mendengar orang itu membaca Anna Allaha bari'um -mina-l musyrikiin wa rasuulihu seharusnya dibaca Rasuluhu Jika diartikan akan sangat jauh berbeda. Pembacaan pertama yang salah tersebut berarti "Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasulnya.” Tentu saja arti tersebut menyesatkan, karena Allah tidak pernah berlepas dari utusanNya. Makna kalimat yang semestinya yakni “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik.” Hanya satu harakat, tapi mengubah arti yang begitu banyak.
    Sejak peristiwa itulah, Ad-Duali mulai menekuni Nahwu dan berkeinginan memperbaiki Bahasa Arab. Ia khawatir jika tak dibuat sebuah kaedah, Bahasa Arab akan mudah lenyap begitu saja. Mengingat di era kekhaifan Ar-Rasyidin pun, sudah terdapat kesalahan baca Al-Qur'an. Mulailah Ad-Duali membuat kaedah tata bahasa Arab.
    Ketika itu, belum digunakan fathah, dhamah ataupun kasrah. Ad-Duali mengunakan sistem titik berwarna merah sebagai syakal kalimat. Titik-titik tersebut yakni, sebuah titik di atas huruf dimaknai a yakni fathah, satu titik di bawah huruf dibaca i atau kasrah, satu titik di sebelah kiri huruf dibaca u yakni dhammah.
    Adapun tanwin (dua fathah, dua kasrah dan dua dhammah) tinggal menambah titik tersebut menjadi dua buah. Titik-tik tersebut dicetak merah agar membedakan dengan tulisan Arab yang menggunakan tinta hitam.
    Kaedah nahwu Ad-Duali ini dikenal mengusung mazhab Bashrah. Pada perkembangan bahasa Arab, muncul dua  mazhab yakni Bashrah dan Kufi. Kedua mazhab tersebutlah yang sangat gencar menyebarkan ilmu nahwu ke penjuru dunia.
     Maka dari itu, Abul Aswad berjasa dalam membuat harakat Al Qur’an. Ia berhasil mewariskan system penempatan “titik-titik” tinta berwarna merah yang berfungsi sebagai syakal-syakal yang menunjukkan unsur-unsur kata Arab yang tidak terwakili oleh huruf-huruf. Penempatan titik-titik tersebut, adalah:
    ·      Tanda fathah dengan satu titik diatas huruf (a).
    ·      Tanda kashrah dengan satu titik dibawah huruf (i)
    ·      Tanda Dhamah dengan satu titik disebelah kiri huruf (u)
    ·      Tanda tanwin dengan dua titik (an-in-un)
    Untuk membedakan titik-titik tadi dari tulisan pokoknya (biasanya berwarna hitam), maka titik-titik itu diberi warna (biasanya merah).
     Tetapi system ini tidak dapat begitu saja menyelesaikan masalah, sebab ada huruf-huruf yang sama bentuknya namun harus dibaca berlainan tanpa dibubuhi tanda-tanda pembeda, huruf-huruf itu menyukarkan banyak pembaca.
    Dalam perkembangannya, upaya Ad-Duali ini disempurnakan oleh beberapa muridnya yakni Nasr Ibn ‘Ashim (w. 707 M) dan Yahya Ibn Ya’mur (w. 708 M). Mereka melakukan penyempurnaan harakat tersebut pada masa pemerintahan Abdul Malik Ibn Marwan di Dinasti Umayyah.
    Selain keduanya, Ad-Duali juga memiliki beberapa murid lain yang juga pakar dalam bahasa Arab. Beberapa muridnya yakni Abu Amru bin ‘alaai, Al Kholil al Farahidi al Bashri yang merupakan pelopor ilmu arudh dan penulis Kamus Arab pertama.
    Tak hanya harakat, Ad-Duali melahirkan banyak kaedah tata bahasa Arab yang hingga kini masih menjadi patokan atau rujukan. Sejak dikenal sebagai peletak dasar ilmu i'rab, maka banyak orang datang untuk belajar ilmu qira'ah ataupun dasar ilmu i'rab. ia mencurahkan hidupnya untuk menelaah ilmu nahwu, hingga wafatnya pada tahun 688 masehi di Basrah.
    Wafatnya
    Abu Al Aswad meninggal karena wabah ganas yang terjadi pada tahun 69 Hijriyah dalam usia 85 tahun.
    Perkataan para ulama tentangnya
    Ahmad Al-Ijli berkata, “Dia tsiqah (terpercaya) dan orang yang pertama kali berbicara tentang ilmu nahwu”. Al-Waqidi berkata, “Dia masuk Islam pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup.” Orang lain berkata, “Abu Al Aswad Ad Du’ali ikut perang Jamal bersama Ali bin Abu Thalib, dan dia termasuk pembesar kelompok pendukung Ali dan orang yang paling sempurna akal serta pendapatnya di antara mereka. Ali radhiallahu ‘anhu telah menyuruhnya meletakkan dasar-dasar ilmu nahwu ketika beliau mendengar kecerdasannya.” Al Waqidi berkata, “Lalu Abu Al Aswad menunjukkan kepadanya apa yang telah ditulisnya,” Ali bin Abu Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Alangkah baiknya nahwu yang kamu tulis ini.” Dan diriwayatkan pula bahwa dari situlah ilmu nahwu disebut ‘nahwu’. Muhammad bin Salam Al Jumahi berkata, “Abu Al Aswad Ad Du’ali adalah orang yang pertama kali meletakkan bab Fa’il, Maf’ul, Mudhaf, Huruf Rafa’, Nashab, Jar, dan Jazm. Yahya bin Ya’mar lalu belajar tentangnya.”
    Al-Mubarrad berkata, Al-Mazini menceritakan kepadaku, dia berkata, “Sebab yang melatarbelakangi diletakkannya ilmu nahwu adalah karena Bintu Abu Al Aswad (anak perempuan Abu Al Aswad) berkata kepadanya, ‘Maa asyaddu Al Harri (alangkah panasnya) Abu Al Aswad lalu berkata, Al Hasyba Ar Ramadha’ (awan hitam yang sangat panas)’ anak perempuan Abu Al Aswad berkata, ‘aku takjub karena terlalu panasnya’. Abu Al Aswad berkata, ‘Ataukah orang-orang telah biasa mengucapkannya ?’. lalu Abu Al Aswad mengabarkan hal itu kepada Ali bin Abu Thalib, lalu dia memberikan dasar-dasar nahwu kepadanya dan dia meneruskannya. Dialah pula orang yang pertama kali meletakkan titik pada huruf.”
    Al-Jahizh berkata, “Abu Al-Aswad adalah pemuka dalam tingkat sosial manusia. Dia termasuk kalangan ahli fiqih, penyair, ahli hadits, orang mulia, kesatria berkuda, pemimpin, orang cerdas, ahli nahwu, pendukung Ali, sekaligus orang bakhil. Dia botak bagian depan kepalanya.”